Titik Nadir Demokrasi; Kesunyian Manusia dalam Negara Cetak E-mail
(1 vote)

Demokrasi dan Kedaulatan yang Hilang

Buku ini lahir dalam konteks kekuasaan Orde Baru yang begitu dominan, sehingga kontrol negara merasuk ke segala lini kehidupan. Saat itu kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dapat dimainkan seperti wayang oleh penguasa. Orba merupakan zaman di mana hakikat kebenaran pun dimonopoli penguasa dan kedaulatan rakyat ditaruh pada tempat terendah.

Titik Nadir Demokrasi merupakan kumpulan tulisan. Salah satunya berjudul “Semar Mbalela” (hal 14-23) yang menceritakan Kerajaan Amarta Agung akan menyelenggarakan pesta seni besar-besaran. Tokoh utama yang akan tampil Semar, yang merepresentasikan kedaulatan rakyat. Sejatinya, Semar adalah dewa dari dewa-dewa. Dia lebih tinggi dari penguasa Khayangan.

Tapi Semar hadir dalam bentuk rakyat biasa. Ini dapat dimaknai bahwa rakyat pelaku sejarah utama dan dijunjung. Nah pada saat pertunjukan wayang dimulai, terjadi geger yang menyebabkan kekacauan. Sebab saat Semar akan diambil dari kotak dan ditampilkan, tidak ada.

Para dalang pun kebingungan dan mencari ke seluruh tempat, tetapi sia-sia, Semar tidak juga ditemukan. Suasana pun menjadi panik dan tidak karuan. Saat itulah, tiba-tiba muncul Gareng, Petruk, dan Bagong yang menjelma menjadi manusia. Mereka keluar dari kotak wayang. Tetapi punakawan itu langsung diamankan prajurit bersenjata lengkap. Bagong protes. Mereka menolak sekadar diletakkan dalam kotak. Prajurit pun makin beringas. Gareng, Petruk, dan Bagong pun diamankan paksa dan dimasukkan kembali dalam kotak.

Segera setelah itu, tiba-tiba terdengar suara Bagong menyebar di seluruh ruangan. Dia berkata, “Kami pergi karena ogah menjadi wayang terus-menerus. Wayang itu goblok. Kalau dia bergerak, sesungguhnya dalang yang menggerakkan. Kalau dia ngomong, sesungguhnya dalang yang mengeluarkan ucapan. Kami ingin memberontak.”

Kisah tersebut memaparkan selama ini kebebasan rakyat dirampas dengan semena-mena. Penguasa menggunakan instrumen aparat keamanan menyumbat suara-suara lantang yang menginginkan perubahan dan kebebasan. Padahal rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi, sehingga harus dihormati dan didengarkan.

Tulisan pamungkas Emha dalam buku ini berjudul “Titik Nadir Demokrasi; Kesunyian Manusia dalam Negara” yang juga menjadi judul buku. Dalam esai diuraikan saat kebanyakan orang kehilangan kemanusiaan, rohani, mora, sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Hukum menjadi lunak dan kehilangan kepastiannya. Hari ketika manusia penuh dengan penyakit yang merusak pikiran, menyelewengkan energi mental, dan mengikis moralitas. Manusia pun mulai meletakkan dunia, kapital, dan modal di tangan kanan.

Sementara Tuhan dan agama berada ditangan kiri. Tangan kanan yang mengontrol pergerakan sejarah, pusat negara, dan pembangunan. Hingga ketika saat terpojok dan terancam, tangan kiri dibuka dan Tuhan dimanfaatkan untuk menyelamatkan diri (hal. 254-258).

Buku akan membuat nalar sadar atas segala ketidakberesan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran dan kewajaran. Mereka yang belum pernah menyicipi rezim Orde Baru, membaca buku ini perlu didampingi agar dapat merasakan keresahan saat itu dan mengerti tujuan penulisan.

Peristiwa lawas seperti Edy Tansil, Mega dan konflik internal PDI, kepemipinan Soeharto, terasa kurang up to date dengan situasi sekarang. (Rachmanto MA - sumber: www.koran-jakarta.com)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & BUDAYA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24478844

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit