Ketika Lampu Berwarna Merah Cetak E-mail
(1 vote)

Realitas Masyarakat Terbuang di Negeri Tercinta

Ketika Lampu Berwarna Merah“Majikan saya kebal lampu merah…” Bukankah pada saat-saat seperti itu lampu merah berlaku untuk mobil majikanmu? “Berlaku kalau aku mau mematuhinya. Kalau aku mau melanggarnya, polisi-polisi itu tidak akan menegorku.” Kenapa begitu? “Kau harus tahu, ciri-ciri mobil untuk orang seperti majikan saya. Polisi-polisi tahu tentang itu,” (hal. 105-106).

Lewat Sutrisno, sopir pribadi seorang pejabat, meski bukan tokoh utama, novel ini melontarkan kritik terhadap banyak ketimpangan. Di antaranya, aturan dan hukum yang tak menjangkau semua orang. Hanya kaum lemah yang merasakan.

Dikisahkan, Sutrisno menolong Kartijo untuk mencari anaknya, Basri yang nekad mendatangi belantara ibu kota demi mimpinya melihat puncak Monas. Di Jakarta, Basri ternyata hidup menggelandang bersama teman-temannya, anak-anak pengemis. Di antara mereka, ada Pipin, anak terkecil berkaki buntung yang seringkali dieksploitasi teman-teman dan ibunya untuk menarik iba orang di perempatan lampu merah.

Tanpa disadari sebenarnya banyak terjadi di perempatan lampu merah. Bagi para pengendara, bisa jadi lampu merah saat mereka istirahat  sejenak. Tetapi bagi Pipin dan kawan-kawannya, itu  saat hidup mereka berjalan. Bagi mereka, lampu merah berarti harapan baru (hal. 24).

Kritik sosial novel ini kembali terlihat saat Pipin, yang meski hidup susah, berkaki satu tapi berhati lembut. Dia memberi hadiah teman-teman pengemis, masing-masing makanan impian. Ada telur rebus, nasi dengan ikan goreng, rendang, ayam goreng, telur dadar, perkedel, sate. Semua makanan yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah biasa. Namun bagi mereka luar biasa. Ketika hendak membeli martabak telur impian Pipin, mereka bertemu tokoh-tokoh tamak yang tak henti-hentinya memesan hingga anak-anak itu tak kebagian. “Perut mereka seperti balon, makin ditiup makin besar” (hal. 48).

Kartijo mencari Basri untuk terakhir kalinya karena hendak transmigrasi ke Sumatera, ‘legitimasi’ pemerintah untuk mengusir atau menggusur kaum lemah demi  pembangunan. Setiap perempatan diteliti sesuai info tetangga yang mengaku pernah melihat Basri di perempatan lampu merah Jakarta.

Kartijo akhirnya menemukan Basri. Namun anak itu  telanjur menjadi pelindung Pipin dan Sulistinah, kakak perempuan Pipin, setelah mereka yatim piatu, berat untuk meninggalkan teman-teman pengemisnya. Pipin malah minta Basri untuk pergi dengan membawa Sulistinah. Sementara Sulistinah minta Kartijo untuk membawa serta Pipin. Novel ini membawa pembaca ke kehidupan masyarakat pinggiran, pengemis, pemulung, dan pelacur. Seting cerita sebagian besar di Jakarta, Wonogiri, dan Solo. Meski berkisah tentang tahun 1970-an, banyak masih dapat ditemui hari ini, sehingga tetap relevan.

Tiga tokoh berkaki buntung lain: Margono, rentenir desa yang juga mertua Kartijo; Tom, pengemis tua; dan seorang pemuda mabuk. Tampaknya melalui tokoh-tokoh buntung di novel ini hendak menceritakan berbagai kepincangan negeri ini. Akhir kisah, Kartijo, istrinya, Basri, dan Sulistinah saja yang berangkat ke tanah harapan Sumatera. Pipin yang menyadari diri buntung adalah magnet  iba bagi kawan-kawan pengemis. Dia menolak ikut dan tetap ingin mengais rezeki di lampu merah ibu kota. Sulistinah dan Basri berjanji menjemputnya kelak saat mereka sendiri sudah hidup lebih baik (hal. 226). (Anindita Arsanti - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Hamsad Rangkuti (2016), "Ketika Lampu Berwarna Merah", DIVA Press, 978-6023-911-48-6: 228 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24478805

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit