Berpikir ala Einstein & Bertindak ala Gandhi Cetak E-mail
(1 vote)

Menimba Inspirasi dari Jejak Einstein dan Gandhi

Berpikir ala Einstein & Bertindak ala Gandhi“Yang abadi adalah semesta dan kebodohan manusia. Namun, aku tidak yakin dengan yang pertama,” kata Albert Einstein (1879-1955). Banyak pernyataannya yang dikutip. Einstein diakui mempunyai dampak besar terhadap ilmu dan pengetahuan. Bahkan, dia seakan-akan menjadi ikon kejeniusan dan kecerdasan.

Meskipun sebagian besar mengenalnya, buku ini perlu dibaca demi menyimak Einstein lebih mendalam. Einstein tetap manusia biasa yang menjadi warga masyarakat dunia. Jejak hidupnya bisa menginspirasi, motivasi, dan member teladan. Dia lahir di Jerman dan meninggal dunia di Amerika Serikat. Hidupnya diliputi kesukaan dan kedukaan. Ketika kecil, dia sempat dikatakan lambat dalam belajar. Einstein tetap berjuang menuntaskan pendidikan formalnya.

Pada dasarnya, Einstein tidaklah bodoh karena ada kemampuan yang tetap membuatnya unik di antara teman-teman. Rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan terbilang besar. Sekitar usia 5, dia terpikat kompas, pemberian ayahnya. Dia penasaran dengan jarum yang seakan-akan digerakkan kekuatan tersembunyi. Einstein juga suka musik. Dia sering memainkan karya Mozart dan Beethoven dengan  biola pemberian ibunya.

Kehadiran Einstein mengguncang dunia bermula pada tahun 1905. Berbagai teorinya dipresentasikan seperti kuantum cahaya, ukuran molekul, gerak Brown, dan relativitas khusus. Dia pun membuat rumus yang sampai sekarang mahsyur: E=mc2. Prestasi ilmiah Einstein lainnya, teori medan terpadu, persamaan massa-energi, persamaan medan-Einstein, statistika Bose-Einstein, dan efek foto elektrik. Tahun 1921, dia menyabet penghargaan Nobel Fisika (hlm 33-34).

Tidak dipungkiri, penemuan dan pemikirannya Einstein mempengaruhi para ilmuwan, setelahnya. Dia menangis pilu ketika teorinya untuk kejahatan seperti pembuatan bom atom. Michael H Hart dalam buku Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah menempatkannya pada urutan ke sepuluh. Hart menyebut Einstein sebagai ilmuwan terhebat abad 20 yang tiada tanding sepanjang zaman. Yang layak dicontoh, besarnya rasa ingin tahu dan tak letih belajar.

Konsep berpikir Einstein yang relevan diterapkan dalam kehidupan, kemampuan berpikir kreatif, universal, literal, aktual, dan terbuka. Apa pun masalah harus dipandang dalam kacamata komprehensif. Berpikir terbuka dengan meneliti, menganalisis, mempertimbangkan, dan menilai berbagai ide secara kritis. Jalan buntu menghadapi masalah bukan pada besar kecilnya problem, tetapi keluasan cara pandang dan pola pikir seseorang. Buku ini secara panjang lebar mengupas cara berpikir Einstein itu.

Jika Einstein bisa diteladani terkait pola pikir, maka Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948) pada tindakan kemanusiaannya. Dapat dibayangkan, kebesaran jiwanya yang tetap berbelas kasih terhadap orang yang membenci dan memusuhinya. Dalam perjuangannya, dia menolak apa pun bentuk kekerasan. Dia tidak menyukai konfrontasi. Pribadi yang pemaaf dan memperlihatkan penghormatan tulus kepada setiap orang. Mahatma di depan namanya adalah sebuah gelar berarti “berjiwa besar” (hlm 119).

Sampai kapan pun, hidup mulia Gandhi relevan dicontoh. Konsep kemanusiaannya meresap dalam jiwa, pikiran, dan tindakan. Dia tidak silau kekuasaan (hlm 146). “Jadilah bagian dari perubahan yang ingin Anda saksikan di dunia ini,” ujar Gandhi. Einstein berkata, “Kita harus melakukan yang terbaik. Sebab, hal ini merupakan kunci tanggung jawab suci manusia.”

Cara berpikir dan bertindak dua tokoh besar itu patut menjadi  spirit kehidupan. Jejak hidup dan karya mereka menginspirasi serta mengilhami dunia. (Nazola Soares - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, J Ferdinand Setia Budi (2016), "Berpikir ala Einstein & Bertindak ala Gandhi", DIVA Press, 978-6022-961-95-6: 180 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
PENGEMBANGAN DIRI

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24478830

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit