Manusia Pendoa Cetak E-mail
(1 vote)

Menghayati Nilai-nilai Agama Secara Benar

Manusia PendoaBeberapa waktu, Paus Fransiskus menggemparkan dunia dengan mengunjungi para pengungsi Timur Tengah yang kini “terperangkap” di Pulau Lesbos, Yunani. Dalam kunjungannya tersebut, Paus membawa 12 pengungsi ke Vatikan sebagai simbol, semua negara harus bisa menerima pengungsi. Rombongan Paus juga berkunjung ke kota Mytilene, ibu kota Pulau Lesbos untuk memanjatkan doa mengenang ratusan pengungsi yang tewas dalam perjalanan menuju Eropa.

Konflik Timur Tengah dan Tindakan Paus memunculkan pertanyaan tentang agama. Mengapa agama dapat membuat orang-orang  melakukan kekerasan dan kasih? Ketika dalam pencarian tentang hakikat agama, saya menemukan pemaknaan agama menurut Asghar Ali Engineer yang tepat.

Agama terdiri dari kepercayaan, dogma, tradisi, praktik, dan ritual. Orang beriman dilahirkan dalam sebuah tradisi agama yang mewariskan banyak hal. Mereka menganggap, ritual sama pentingnya dan menyatu dalam nilai. Sayang, saat ritual dikerjakan secara teratur, kadang nilai agama terabaikan, diperkosa ataupun dikerjakan sebagai simbol.

Terdapat tren lain yang terhitung modern, agama dianggap sebagai ideologi. Dimulai dari kolonialisme abad ke-19

Lantas, negara-negara yang menerapkan agama sebagai ideologinya (simbol), tidak hanya menerapkan hukum-hukum Tuhan secara ketat, tetapi menghukum keras semua yang mendorong perubahan. Pemerintahan dengan ideologi agama, akhirnya akan mengarah pada otoritarianisme yang paling buruk.

Agama sebagai simbol (ritual) atau ideologi tidak menjadi masalah. Dia  akan jadi problem tatkala inti agama diabaikan. Inti agama diperkosa demi kepentingan ideologi atau kelompok. Seperti Islam mendasarkan pada keadilan dan kesetaraan. Keadilan semua lapisan dan  kesetaraan bagi sestiap manusia. Kristen, pada sisi lain, mendasarkan pada cinta dan maaf yang sangat penting bagi hubungan manusia.

Nilai dasar setiap agama-agama ada tujuh (Asghar Ali Engineer: 2004) yakni kebenaran, non-violence, keadilan, kesetaraan, kasih sayang, cinta dan toleransi. Sedang kebenaran memiliki dimensi kesempurnaan spiritual. Lantas, seseorang yang menjalankan kebenaran hendaknya tidak puas karena masih jauh dari kesempurnaan. Tuhan adalah kebenaran dan kebenaran adalah Tuhan.

Mencari  kebenaran, sesungguhnya identik mengejar nilai  moral dan etika. Apa yang dilakukan Paus merupakan penghayatan agama melalui tanpa meninggalkan simbol dalam agamanya. Kaum Yahudi, Katolik, Kristen, Hindu, atau Buddha dan lainnya harus menjalankan nilai-nilai paling mendasar ini.

Paus merupakan salah satu contoh penganut agama yang benar-benar menghayati agama sampai ke intinya. Jika semua penganut agama bisa menghayati seperti ini, maka perbedaan agama bisa diterima setiap orang. Atau, setidaknya pemimpin  agama member contoh agar memahami agama tidak sekadar symbol. Beragama harus dihayati sampai ke nilai inti (halaman 289).

Nilai dalam agama-agama adaalh  pondasi dalam mewujudkan perdamaian. Perseteruan antaragama oleh orang rasional dilihat karena ajarannya. Tidak! Perselisihan antaragama akibat terlalu mengorbankan nilai-nilai inti dan menyalahgunakan agama demi kepentingan ekonomi, politik, serta  pribadi.

Saya tidak mengatakan bahwa ritual tidak penting atau tidak memainkan apa pun dari struktur agama. Tetapi ritual memiliki peran dan arti penting keberadaan agama itu sendiri. Ritual menanamkan keunikan bagi tiap agama. Sedangkan nilai tidaklah khas untuk setiap agama. Orang  beriman taat lebih sadar nilai dasar ini dibanding ritual. Juga perlu diingat, pelaksanaan ritual tidak mencederai kepentingan pribadi, namun  menuntut pengorbanan besar. (Novita Ayu Dewanti - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Mario Escobar (2016), "Manusia Pendoa", Gramedia, 978-6020-321-06-6: 452 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Resensi Genre Terkait
KATOLIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
SCHOOL for the NEXT LEADERS
Sponsor
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"The pleasure of all reading is doubled when one lives with another who shares the same books." ~ Katharine Mansfield

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 24478745

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit