Derap Politik Para Jenderal Cetak E-mail
(1 vote)

Peran Sejumlah Jenderal dalam Sejarah Republik

Derap Politik Para JenderalSejarah mencatat peran para perwira tinggi militer atas perjalanan bangsa dan negara. Jenderal Soedirman (1916-1950), misalnya, dikenal patriotik dan nasionalis. Panglima Besar TNI itu berprinsip teguh, jujur, sederhana, dan menomorsatukan kepentingan bangsa. Bangsa takkan melupakan perjuangannya mengusir penjajah. Kendati sakit berat, dia tetap memimpin gerilya dengan ditandu. Pak Dirman melampaui segala tanda jasa. Pengabdiannya tidak bisa diukur dengan penghargaan-penghargaan formalistis. Dia akan selalu istimewa di hati rakyat sepanjang generasi.

Dia pernah berpesan, “Ingat,  prajurit bukan sewaan. Bukan menjual tenaganya karena hendak merebut sesuap nasi. Bukan pula yang mudah dibelokkan haluannya karena tipu dan nafsu kebendaan. Tetapi prajurit Indonesia adalah dia yang masuk ke dalam tentara karena keinsyafan jiwanya atau panggilan ibu pertiwi. Dengan setia membaktikan raga dan jiwanya bagi keluhuran bangsa dan negara” (hlm 190-191).

Jenderal yang juga bergelar pahlawan nasional adalah Gatot Soebroto (1907-1962). Awal tahun 1980-an, film Kereta Api Terakhir sedikit menyorot sepak terjang jenderal asal  Banyumas, Jateng ini. Semasa penjajahan, dia pejuang heroik, tanpa kenal kompromi. Dia sangat taktis dan cerdas. Gatot menaruh perhatian pada pembinaan perwira muda. Gagasannya menggabungkan tiga matra dalam satu kesatuan, melahirkan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (hlm 96).

Nama jenderal dalam buku ini diurutkan berdasarkan abjad. Pertama Abdul Haris Nasution (1918-2000). Tokoh kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara ini lolos dalam peristiwa G 30S/PKI. Berada dalam pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, dia tak gentar mengkritik presiden. Meski saat menjabat Ketua MPRS melantik Soeharto, dia akhirnya kecewa berat. Keyakinannya Indonesia lebih baik, jauh panggang dari api. Pak Nas  termasuk pengkritik paling vokal dan  harus rela disingkirkan dari gelanggang politik.

Prestasi Pak Nas yang akan terus dikenang adalah konsep strategi perang yang diabadikan dalam buku Strategy of Guerilla Warfare dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Buku ini menjadi panduan militer di sejumlah negara. Bahkan, West Point Amerika Serikat yang menjadi kiblat sekolah elite militer menjadikannya sebagai buku wajib (hlm 19-20).

Jenderal lainnya Ali Moertopo (1924-1984). Meskipun banyak dikomentari miring, di dunia militer dan politik dia menorehkan catatan tersendiri. Ketika hubungan Indonesia dan Malaysia memanas, misalnya, Ali menyelesaikan. Dia nyawa dari segala kebijakan politik dan intelijen Soeharto. Ali sosok penting modernisasi intelijen. Sisi kontroversialnya membuatnya dijuluki man of opinion oleh kalangan pengamat (hlm 48). Jabatan menteri penerangan dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung pernah diemban.

Sepertinya jenderal yang akan terus melegenda adalah Hoegeng Iman Santoso (1921-2004). Di tengah perilaku koruptif akut, dia konsisten menegakkan kejujuran. Sampai-sampai Gus Dur sempat beranekdot bahwa di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng (hlm 117). Banyak prestasi ditorehkan Kapolri ke-5 itu. Dia sangat peduli pada masyarakat dan anak buah. Hoegeng juga tak segan mengatur lalu lintas di perempatan.

Sosok lainnya, Ahmad Yani, Hartono Rekso Dharsono yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal ASEAN, dan Endriartono Sutarto. Total ada 28 jenderal diulas. Dari sekian nama, yang berhasil memasuki karpet merah Istana adalah Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono. (Rr S Ng Budhi Dariyah Astuti - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

, Andi Setiadi (2016), "Derap Politik Para Jenderal", Palapa, 978-6022-792-14-7: 288 Halaman. 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25193068

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit