|
Manusia, dalam bahasa Tuhan, adalah makhluk yang unik. Sebab, manusia dapat saja mencapai derajat “ahsanu taqwim”, sebaik-baiknya ciptaan-Nya, tetapi di posisi lain dia juga bisa berada dalam derajat hina dina (asfala safilin), bahkan lebih rendah dari pada binatang! Kenapa hal ini berpotensi pada manusia? Kenapa kalau manusia “sesempurna” ciptaan-Nya tetapi suatu saat dapat anjlok dalam lubang hina? Ditulis dengan gaya satir, Percy mencoba membongkar ‘topeng-topeng’ wajah manusia yang sekian hari sekian tebalnya. Hingga tertupi wajah ‘asli’nya. Begitu pula, Percy dengan jenaka mencoba membangun imajinasi bagaimana seandainya manusia yang memiliki peradaban tinggi di planet bumi atau malah di galaksi Bimasakti ini berhadapan dengan makhluk luar angkasa dari planet Proxima Century (PC3). Percy, melalui buku ini, mengajak pembaca untuk merenungkan kembali "diri", yang selama ini terbenam dalam ‘balutan kosmetik’ wajah, hingga tak jelas mana kulit mana bedak! Membongkar keanehan manusia yang dialami tetapi jarang disadari seperti: mengapa kebanyakan wanita, dan beberapa pria, menjadi korban mode; diri salah-simpan: bagaimana dua diri saling berhadapan satu sama lain dapat saling salah paham, yang satu saling menisbatkan prasangka yang keliru pada yang lain dan berupaya menyesuaikan dirinya dengan prasangka itu, sehingga kedua diri itu menjadi bukan diri lagi; permasalahan yang sering terjadi di sekitar kita: mengapa artis yang mapan secara material ternyata malah sering kawin-cerai, bunuh diri, dan masih banyak lagi. Buku ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang menggiring kita untuk mengiyakan kesimpulan penulisnya (Percy). Meskipun berisi opsi-opsi jawaban, tapi tetap saja pilihan tersebut akan menjerat kita kepada kesimpulan tunggal, “bahwa selama ini kita memang cukup munafik” Buku ini menjadi teman kita bertanya di tengah hiruk pikuk perilaku manusia yang seakan tidak pernah terpuaskan dengan penumuan yang saling susul. Kesibukan yang semakin mengajak kita "lupa" dan "enggan" sangkan paraning dumadi kita. Sepanjang tanpa ada kemauan dan kemampuan manusia untuk berefleksi, sepanjang itu pula apa yang ada di hadapannya selalu diidentikan sebagai masalah. Sepanjang manusia tidak mau menengok ke dalam konstelasi alam nirsadarnya, sepanjang itu ia berada dalam keterasingan, kebingungan dan tersesesat di jagat raya ini. Manusia, mau tidak mau, harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial, yaitu, tentang makna kehadirannya di dunia. Karena melalui pertanyaan-pertanyaan itulah kita terus menerus dituntut untuk berefleksi. Kita dituntut cermat dan memaknai segenap peristiwa dengan penuh makna, sebagai symbol yang bantu mengarahkan siapa diri kita sebenarnya (Himawijaya, dalam pengatar Buku “The Last Self-Help Book”). Jika setiap anggota tubuh adalah tanda, jika jalinan peritiwa adalah tanda, keagungan kosmos juga tanda. Sudah semestinya kita menyelam sebagai mana Bimasakti yang menyelam di kedalaman samudera dan kemudia menemukan diri kecilnya sebagai Dewa Ruci. Sebab yang kecil, yang inti ternyata memiliki keluasan lebih dibandingkan dengan alam yang tampak. Keluasan itu adalah diri, hati yang kecil tetapi karena diri, hati Tuhan mampu ditampung sekaligus dikenali. (Kaha Anwar) | Judul | : The Last Self-Help Book; | | | Sebuah Perenungan Filsafat dan Semiotika Diri dengan Gaya Humor Satir | | Penulis | : Walker Percy | | Penerbit | : Jalasutra | | Tahun | : 2006 | | Genre | : Filsafat | | Tebal | : 330 Halaman | | ISBN | : 979-3684-32-1 |
|