| Judul | : Pollyanna | | Pengarang | : Eleanor H. Porter | | Penerbit | : Orange Book | | Tahun | : 2010 | | Genre | : Novel Klasik | | Tebal | : 300 Halaman | | ISBN | : 978-602-8436-79-3 |
Bisakah kita selalu merasa senang dalam kondisi apapun? Dalam kondisi terburuk sekalipun? Kemungkinan jawaban terbanyak adalah Tidak. Tidak mungkin kita bisa merasa senang dan bersukacita bila hati kita sedang sedih atau bila kita sedang tertimpa musibah. Karena itu sifat alami kita sebagai manusia yang punya rasa senang, gembira, sedih, marah, takut, dll. Tetapi tidak dengan gadis cilik yatim piatu, Pollyanna Whittier. Pollyanna yang setelah kematian Ayahnya tinggal bersama Miss Polly, tepatnya Bibi Polly yang merupakan adik dari Ibu Pollyanna. Pollyanna yang awal kedatangannya ke Kota Beldingsville sebagai anak yatim piatu miskin, keponakan dari Miss Polly yang kaya dan terkenal garang, akhirnya secara ajaib bisa merubah seisi kota itu menjadi manusia-manusia baru yang lebih ceria dan lebih gembira. Dia bisa membuat segala kondisi dan keadaan menjadi senang, walau dalam keadaan menyakitkan sekalipun. Bukan dengan sihir atau sulap bahkan kata-kata mantra, ia rubah semua itu, tapi hanya dengan sebuah permainan sederhana. Pollyanna mempunyai permainan yang ia beri nama permainan “sukacita”. Permainan yang diajarkan oleh ayahnya yang berprofesi sebagai pendeta missionaris. Profesi yang membuat Ayah Pollyanna terpikir akan suatu permainan. Dan Pollyannalah sasaran pertamanya, diawali dengan tongkat yang ada dalam kotak amal. Permainan apa itu? Tentang bersukacita dalam segala kondisi, yang bisa membuat kita senang dalam segala hal, tak peduli apapun itu. Tidak pernah sekalipun ia membiarkan dirinya bersedih atau berduka akan sesuatu, ia selalu mencari hal untuk bisa senang dari kesedihan dan kedukaan yang ia alami. Sangat banyak keajaiban yang dihadirkan oleh permainan sukacita dari Pollyanna ini. Dan semuanya berbuah kebaikan, walau pada awalnya dalam memainkan permainan sukacita itu, tidak semua orang melakukannya dengan sungguh-sungguh alih-alih nada sarkasme yang selalu terlontar. Sebut saja Mrs. Snow, seorang janda berkarakter unik atau lebih tepatnya aneh, yang sakit-sakitan dan menderita lumpuh, kemudian Jimmy Bean, bocah lelaki yatim piatu yang ingin mempunyai tempat tinggal sendiri dan tidak mau tinggal di Panti asuhan. Ada juga Nancy, pembantu Rumah Tangga Miss Polly, yang bersedih hanya karena namanya Nancy, yang menurutnya itu adalah sebuah nama yang aneh dan tidak indah, juga ada Mr. Pendleton, lelaki bujang yang tidak pernah berbicara pada siapapun selama bertahun-tahun, pelit dan galak. Mereka semua adalah orang-orang yang bermasalah, tetapi semuanya berubah ketika mereka bermain Permainan sukacita bersama Pollyanna. Kisah tentang Mr. Pendleton ini yang sangat saya suka, karena teramat menyentuh hati ketika membacanya. Bagaimana tidak? Seorang gadis cilik berhasil meluluhlantakkan kerasnya hati orang dewasa seperti Mr. Pendleton. “Selama bertahun-tahun aku menjadi orang yang ketus, aneh, menyebalkan, lelaki tua yang menjengkelkan─ walaupun umurku belum mendekati enam puluh, Pollyanna. Lalu, suatu hari, seperti salah satu prisma yang begitu kau sukai, Nona Kecil, kau menari dalam kehidupanku, dan mewarnai duniaku yang menjemukan dengan biasa-bias ungu, keemasan, dan merah muda dalam kerianganmu yang mencerahkan hati” Sungguh indah kata-kata yang diucapkan Mr. Pendleton itu sampai mata ini berkaca-kaca karenanya. Hal lain yang lebih mengharubiru adalah ketika Pollyanna yang ceria tertabrak mobil yang mengakibatkan ia menderita kelumpuhan. Tapi apa yang ia katakan? Alih-alih sedih ia malah menepukkan tangan dan berkata: “Oh, aku sungguh senang, ternyata ada yang bisa membuatku gembira. Aku gembira punya kaki!” Sungguh ajaib kan? Pertama kali tanpa sengaja melihat kover novel yang sangat lucu dan fullcolor ini, aku langsung jatuh cinta dan berjanji harus memilikinya saat novel itu terbit nanti. Ketika mengikuti kuisnya di facebook Penerbit Orange tetapi belum beruntung mendapatkannya, akhirnya dengan sukacita, aku membelinya  Tidak sia-sia membaca novel karya Eleanor H. Porter ini, karena sebagaimana lazimnya novel klasik, sudah pasti banyak kata-kata indah yang terangkai menjadi kalimat-kalimat indah yang syarat makna. Novel yang pantas menjadi bacaan dari anak-anak sampai orang Dewasa. (Noviane Asmara)
|