| Judul | : Gurun Cinta; Persaingan Asmara Ayah dan Anak | | Pengarang | : François Mauriac | | Penerbit | : Serambi | | Tahun | : 2010 | | Genre | : Novel Drama | | Tebal | : 292 Halaman | | ISBN | : 978-979-0-24225-8 |
Apa jadinya bila ada persaingan asmara antara ayah dan anak memperebutkan satu perempuan?? Novel Gurun Cinta (Le Desert de l’amour, 1925) yang meraih Grand Prix du Roman de I’Academie Francaise pada 1926 dianggap sebagai novel terbaik Francois Mauriac oleh para kritukus sastra. Raymond Courreges dikaruniai wajah tampan, tapi menganggap dirinya monster buruk rupa dan jorok. Umurnya belum genap dua puuh tahun. Setiap hari menaiki trem setiap pukul enam pagi. Di trem itu, melihat seorang perempuan dewasa yang juga selalu menaiki trem. Di trem itulah Rymond mulai jatuh cinta. Dalam usia lima puluh dua tahun, seorang lelaki masih boleh mengharapkan hidup bahagia selama beberapa tahun lagi, meskipun barangkali hati mereka diracuni oleh penyesalan yang dalam. Itulah yang dipikirkan Paul Courreges. Punya pekerjaan yang mapan sebagai dokter dan memiliki keluarga bahagia belum membuat hidupnya terasa lengkap. Dia mencintai pasiennya, Maria Cross. Hewan pun akan mengusir anak-anaknya yang sudah dewasa. Bahkan lebih seringnya, hewan jantan tidak mengenali anak-anak itu sebagai anak-anak mereka. Hanya manusia yang mengembangkan perasaan sentimental untuk melestarikan tiap-tiap peranan itu. Dalam melestarikan cinta tidak ada kata habis, tapi kita segera menyadari bahwa kelompok kecil pergaulan kita semakin lama semakin mengecil setiap tahunnya. Kaum muda mengalami kekalahan karena mereka membiarkan diri dengan mudah diyakini mengenai ketidakmampuan mereka. Semua orang memang sinting jika dalam kesendirian. Pengendalian itu terpaksa difungsikan jika ada orang lain. Yang jadi masalah bukanlah kesediaan untuk mengungkapkan isi hati, meskipun kita mempunyai pendengar yang bersimpati, walaupu pendengar itu ibu kita sendiri. Siapa diantara kita yang cukup terampil meringkas segenap gejolak jiwa ke dalam beberapa kata saja? Bagaimana mungkin kita dapat melepaskan sebuah perasaan tertentu dari sekumpulan perasaan yang bergejolak? Kita semua diubah dan diubah lagi oleh orang-orang yang mencintai kita, dan meskipun cinta itu mungkin sudah berlalu, kita tetap seperti hasil gubahan itu –gubahan yang mungkin tidak mereka kenali, dan barangkali juga bukan itu yang menjadi tujuan. Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan yang dapat menyilang jalur takdir kita tanpa meninggalkan bekas padanya selamanya. Kelemahan terakhir manusia terletak pada kemampuannya untuk mengagumi keburukannya sendiri, seakan-akan terpesona ketika melihat berlian. Pada saat-saat tertentu kita menyadari bahwa kita tidak berarti apa-apa bagi orang tertentu yang sangat berarti bagi kita. Betapa mengganggunya orang-orang yang tidak menyentuh hati kita, orang-orang yang tidak kita pilih! Mereka benar-benar di luar diri kita. Tidak ada satu pun mengenai diri mereka yang ingin kita ketahui. Seandainya mereka meninggal, kematian mereka sama sekali tidak berartinya dengan ketika mereka masih hidup. Orang-orang yang terdekat dengan kita selalu yang paling tidak kita pahami. Kita mencapai titik yang bahkan kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan mata kita. Jatuh cinta sangat tidak enak dan berhenti mencintai membuat kita merasa hina. Manusia seharusnya selalu memikirkan kesulitan orang lain, dan suntikan-suntikan kecil tantangan itulah yang membuat darah selalu mengalir. Manusia tidak punya waktu untuk memikirkan penderitaan batinnya sendiri, memikirkan luka yang menghujam dalam-dalam sampai ke relung lubuk hatinya. Kisah cinta segitiga antara Maria Cross, Paul Courreges, dan Raymond Courreges ini dikemas dalam novel memukau karya pemenang Hadiah Nobel Sastra 1952. Kepada siapakah cinta Maria Cross berlabuh?? (luckty)
|