| Judul | : Let Go; Setiap Cerita Punya Ruang Sendiri di Dalam Hati | | Penulis | : Windhy Puspitadewi | | Penerbit | : Gagas Media | | Tahun | : 2009 | | Genre | : Teenlit | | Tebal | : 244 Halaman | | ISBN | : 978-979-780-382-7 |
“Aku baca buku karena aku suka, bukan karena aku mengharap suatu penilaian dari orang-orang di sekitar aku. Bukan karena aku ingin dianggap hebat atau pintar atau berpendidikan atau beradab cuma karena udah baca sebuah karya sastra.” [hal. 60] Mitos 1: Teenlit, terutama mengenai remaja di kota besar, selalu menggambarkan hubungan orangtua dan anak yang tidak harmonis. Windry mematahkan itu. Alih-alih menghadirkan konflik yang begitu-begitu saja, sosok mama Caraka ditampilkan humoris, nyaris seperti kawan dengan putra semata wayangnya. Raka berbagi tugas dengan sang ibu yang membanting tulang sebagai kepala keluarga, tetapi masih berkomunikasi penuh semangat dan saling mencerahkan hati. Mama Raka tahu persis cara menghadapi seorang remaja. “Ma, tinggiku sudah 180 sentimeter. Sudah cukup. Kalau tumbuh lagi, bisa-bisa aku dikira mengidap gigantisme.” “Lho, bukannya ada satu lagi yang perlu tumbuh dari kamu?” “Apa?” “Otak! Hahahaha.” [hal. 12] Gurauan ini, sudah tentu, tidak menunjukkan bahwa sang ibu adalah tipe pencemooh anak kandungnya. Hubungan Raka dan mamanya sangat cair, walaupun wanita tegar itu tidak dapat mengubah pendirian Raka yang membenci ayahnya setelah dua tahun meninggalkan mereka. Mama tetap mengerti tabiat anaknya, yang tidur sore-sore hanya bila sedang kisruh hati, serta menegurnya karena menelantarkan tamu. Mitos 2: Teenlit melulu berbicara tentang mode, pesohor, dan tempat nongkrong yang gaul. Status anak sekolah hanya tempelan. Aspek-aspek yang menyerupai sinetron itu tidak ditemukan di sini. Perwatakan Sarah, Raka, Nathan, dan Nadya merupakan sosok remaja berwawasan. Mereka berbicara tentang lomba esai, prestasi, pencapaian melalui aktivitas ekstrakurikuler, buku, musik klasik, bahkan Raka yang dikisahkan paling ‘cekak’ [khususnya menghadapi mata pelajaran eksak] sangat cemerlang dalam pelajaran sejarah. Pandangan masyarakat kita yang cenderung sempit menyangkut kecerdasan seseorang pun dipaparkan dalam salah satu dialog. “Orang yang baca banyak buku kayak kamu dan menguasai sejarah nggak mungkin bodoh. Kamu cuma sial karena hidup di tempat dan waktu yang salah. Tempat dan waktu ketika kamu dianggap bodoh kalau kamu nggak pintar dalam hal yang namanya sains.” [hal. 162] Mitos 3: Teenlit hanya bacaan untuk senang-senang dan mengisi waktu luang. Kembali Let Go menunjukkan kelebihannya. Ada problema Sarah yang selalu berusaha menyenangkan hati orang lain, Raka yang terbentur kewajiban sebagai vokalis band tetapi terpaksa mangkir berlatih, Nathan yang tidak hanya pandai dalam semua mata pelajaran namun juga dianggap ‘bukan manusia’ karena lihai dalam olahraga namun sinis dan selalu menjaga jarak dengan orang lain [catatan: dialah karakter paling bersinar dalam novel ini], Nadya yang berusaha sempurna dan sukar memercayai orang lain sehingga selalu sibuk sendiri. Satu pesan moral dapat mencuat dari kejadian ‘sederhana’, Nadya lupa memberitahukan tugas yang telah diinstruksikan guru selama seminggu sehingga teman-temannya hanya memiliki kesempatan selama dua hari. Nathan protes dan Nadya dengan lapang dada mengakui keteledorannya serta meminta perpanjangan waktu. Mitos 4: Teenlit sekadar berbicara tentang kisah cinta, perseteruan dan persaingan memperebutkan lawan jenis. Ada cinta merebak antara karakter-karakter Let Go, akan tetapi mereka menghadapinya dengan pemikiran bijak. Pembaca diajak memahami ihwal memberi harapan yang jauh lebih menghancurkan hati dibandingkan berlaku terus terang. Cinta yang lebih mengemuka adalah kasih sayang antar sahabat. Kepedulian Raka kepada Sarah dan Nadya yang membuatnya dicap tukang ikut campur, sikap ringan tangannya kepada teman yang dilanda kesulitan, pembelaan Nathan kepada Raka yang disebutnya ‘nggak bodoh..cuma tolol’ sekaligus meniatkan perbuatan baik sebelum mati, dan masih banyak lagi yang dapat diraup selaku pelajaran bermanfaat. Bahkan oleh kita yang mengaku sebagai orang dewasa. “..Dia yang harus membuat keputusan untuk dirinya, bukan Ibu, apalagi saya. Ini hidupnya. Jadi, tidak adil rasanya kalau orang lain yang memutuskan apa yang terbaik untuknya.” [hal. 145] “Kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari,” jelas Nadya. “Tapi gimana kalau yang terperangkap adalah ulat yang belum jadi kupu-kupu? Orang tetap nolong nggak? Padahal, keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik supaya ditolong.” [hal. 138-139] Mitos 5: Teenlit penuh sesak oleh bahasa gaul, tak ubahnya percakapan lisan. Jangan khawatir. Bahkan adegan menggunakan ponsel atau ber-SMS pun tidak ada dalam novel ini. Selamat menikmati sajian yang sama sekali berbeda dalam makna sangat positif, dan bersiaplah untuk tergelak dan meneteskan airmata. (rini)
|